BREAKING NEWS

10/recent/ticker-posts

Right Button

test banner

MANGGADANGAN ANAK ULA: TANGAN YANG MEMBERI MAKAN, KELAK MENJADI SASARAN GIGITAN PENGKHIANATAN

Ada sebuah kiasan yang tidak membutuhkan banyak penjelasan, tetapi mampu menampar kesadaran siapa pun yang pernah dikhianati: manggadangan anak ula atau membesarkan anak ular. Sebuah perumpamaan tentang manusia yang dengan susah payah memberikan pertolongan, membuka jalan, menyediakan kesempatan, bahkan mempertaruhkan kepercayaan untuk membesarkan seseorang, tetapi pada akhirnya justru berhadapan dengan pengkhianatan dari orang yang pernah ditolongnya. Ironisnya, ketika masih kecil, ular terlihat tidak berbahaya. Namun, ketika tumbuh besar, bisanya tetap menjadi bagian dari dirinya. Begitu pula manusia yang tidak tahu berterima kasih, ketika sudah memiliki kekuatan, tidak jarang justru melupakan siapa yang pernah mengangkatnya.

Dalam kehidupan sosial, politik, organisasi, pekerjaan, hingga lingkungan pergaulan, fenomena ini bukan cerita asing. Ada orang yang dahulu datang dengan tangan kosong, meminta pertolongan, mengharapkan perlindungan, dan mengetuk pintu kesempatan. Ada pula yang diberikan kepercayaan ketika belum memiliki kemampuan, diberi tempat ketika belum dikenal, serta dibantu ketika sedang berada dalam kesulitan. Namun, setelah mendapatkan kedudukan, pengaruh, dan keuntungan, sebagian justru berubah menjadi sosok yang merasa paling berjasa. Sejarah pertolongan dilupakan, nasihat dianggap gangguan, bahkan orang yang dahulu membesarkannya mulai diposisikan sebagai lawan.

Inilah penyakit karakter yang paling menyedihkan: lupa asal-usul setelah berhasil, tetapi terlalu cepat mengingat kepentingan ketika berhadapan dengan orang yang pernah membantu. Mereka ingin menikmati hasil, tetapi tidak mau mengakui proses. Mereka ingin dihormati, tetapi tidak mampu menghargai jasa. Mereka ingin dianggap besar, tetapi lupa bahwa ada tangan lain yang pernah membantu mereka berdiri. Lebih menyakitkan lagi, sebagian orang justru menggunakan pengetahuan, jaringan, dan kepercayaan yang diperoleh dari orang yang membesarkannya untuk membangun kekuatan menghadapi orang tersebut.

Persoalannya bukan pada perbuatan membesarkan atau membantu seseorang. Kebaikan tetaplah kebaikan, dan menolong sesama merupakan nilai kemanusiaan yang harus dipertahankan. Namun, kebaikan tanpa kewaspadaan dapat berubah menjadi pintu masuk bagi penyalahgunaan kepercayaan. Tidak semua orang yang tersenyum berarti tulus, tidak semua yang mengaku setia benar-benar memiliki loyalitas, dan tidak semua yang pernah dibantu akan menyimpan rasa terima kasih. Ada yang mendekat karena membutuhkan, bertahan karena memperoleh keuntungan, dan menjauh ketika merasa sudah tidak memerlukan siapa pun.

Yang lebih berbahaya adalah pengkhianatan yang tidak datang secara terbuka. Ia bisa bergerak melalui bisikan, adu domba, manipulasi informasi, pembentukan opini, dan permainan di belakang layar. Di depan terlihat bersahabat, tetapi di belakang membangun cerita yang merusak. Di hadapan pemberi kepercayaan terlihat patuh, tetapi diam-diam berusaha mengambil alih pengaruh. Inilah sebabnya karakter seseorang tidak cukup dinilai dari kata-katanya. Perhatikan tindakannya ketika kepentingannya berbenturan dengan kepentingan orang yang pernah menolongnya. Di situlah kesetiaan sesungguhnya diuji.

Namun, jangan pula salah memahami kiasan ini. Tidak setiap orang yang berkembang setelah dibantu akan menjadi pengkhianat. Tidak setiap perbedaan pendapat merupakan bentuk perlawanan, dan tidak setiap keputusan untuk berdiri mandiri berarti melupakan jasa. Seseorang berhak berkembang, memiliki pendirian, dan menentukan jalan hidupnya sendiri. Yang menjadi persoalan adalah ketika perkembangan itu dibangun dengan kebohongan, ketidakjujuran, penipuan, serta tindakan sengaja untuk mencelakakan pihak yang dahulu memberikan kesempatan. Mandiri adalah kehormatan, tetapi mengkhianati kepercayaan adalah persoalan karakter.

Karena itu, jangan menjadikan kebaikan sebagai alasan untuk terus-menerus membiarkan diri dimanfaatkan. Membantu bukan berarti menyerahkan seluruh kendali. Memberi kesempatan bukan berarti menghapus batas. Memaafkan bukan berarti wajib kembali mempercayai orang yang sama dengan kadar kepercayaan sebelumnya. Ada saatnya seseorang harus bersikap tegas, menarik kembali kewenangan yang disalahgunakan, menghentikan fasilitas yang tidak dipertanggungjawabkan, dan menjaga jarak dari perilaku yang merugikan. Ketegasan bukan dendam. Justru itu bentuk penghormatan terhadap diri sendiri dan perlindungan terhadap orang lain.

Dalam organisasi maupun kelompok masyarakat, kiasan manggadangan anak ula menjadi peringatan agar kepercayaan tidak diberikan hanya berdasarkan kedekatan, hubungan keluarga, pertemanan, atau kemampuan seseorang mengambil hati. Jabatan harus diberikan berdasarkan integritas, kemampuan, dan tanggung jawab. Loyalitas tidak boleh hanya diukur dari kepatuhan kepada seseorang, tetapi juga dari kesetiaan terhadap tujuan, aturan, dan kepentingan bersama. Jangan sampai sebuah organisasi justru dirusak dari dalam oleh orang-orang yang memperoleh tempat karena kepercayaan, tetapi menggunakan tempat tersebut untuk kepentingan pribadi.

Ada pula pelajaran bagi mereka yang merasa telah berhasil dan mulai memandang rendah orang yang dahulu membantunya. Ingatlah, kedudukan bukan bukti bahwa seseorang lebih mulia. Kekayaan bukan tanda bahwa seseorang lebih berjasa. Pengaruh bukan jaminan bahwa seseorang akan selalu dihormati. Semua itu dapat berubah dalam sekejap. Hari ini seseorang berada di atas, esok bisa membutuhkan pertolongan dari orang yang pernah diremehkannya. Karena itu, jangan terlalu tinggi mengangkat kepala hingga lupa melihat ke belakang. Sebab, manusia yang kehilangan rasa terima kasih sesungguhnya sedang meruntuhkan kehormatannya sendiri.

Kepada mereka yang pernah dikhianati, jangan biarkan pengalaman pahit mengubah hati menjadi penuh kebencian. Jangan membalas keburukan dengan keburukan, apalagi menempuh cara-cara yang melanggar hukum. Buktikan bahwa ketegasan dapat berjalan bersama martabat. Jika ada kerugian, tempuh jalur yang benar. Jika ada fitnah, jawab dengan fakta. Jika ada penyalahgunaan kewenangan, gunakan mekanisme yang sah. Tidak perlu membuat kegaduhan untuk menunjukkan bahwa kita tidak bisa dipermainkan. Terkadang, keputusan paling keras adalah berhenti memberikan kesempatan kepada orang yang berkali-kali menyalahgunakannya.

Pada akhirnya, manggadangan anak ula bukan hanya sindiran bagi mereka yang tidak tahu berterima kasih, tetapi juga peringatan bagi siapa pun agar lebih cermat membaca karakter manusia. Jangan hanya melihat siapa yang pandai berbicara, tetapi perhatikan siapa yang konsisten bertindak. Jangan hanya mendengar janji kesetiaan, tetapi lihat bagaimana seseorang menjaga amanah ketika tidak ada yang mengawasi. Jangan hanya terpesona oleh keramahan, tetapi nilai pula kejujuran dan tanggung jawabnya. Sebab, kepercayaan yang diberikan tanpa pertimbangan dapat menjadi kerugian yang harus ditanggung bertahun-tahun.

Membesarkan anak ular bukan berarti salah karena telah berbuat baik. Kesalahannya adalah ketika tanda-tanda bahaya sudah terlihat, tetapi seseorang tetap menutup mata dan terus menyerahkan kepercayaan tanpa batas. Kebaikan tidak harus dihentikan, tetapi kebodohan dalam memilih orang yang dipercaya harus diakhiri. Jangan takut kehilangan orang yang hanya datang untuk mengambil keuntungan. Jangan merasa bersalah ketika harus menarik kepercayaan yang telah disalahgunakan. Dan jangan pernah menganggap pengkhianat sebagai orang yang berjasa hanya karena dahulu pernah menjadi bagian dari perjalanan kita. Sebab, tangan yang pernah memberi makan tidak wajib terus-menerus menjadi sasaran gigitan.

MANGGADANGAN ANAK ULA: JANGAN SAMPAI KITA TERLALU SIBUK MEMBESARKAN ORANG LAIN, SAMPAI LUPA MENJAGA DIRI DARI PENGKHIANATAN.

ANAK ULA — PANCOTOK, PAMANJEK, PALOMPEK.

Posting Komentar

0 Komentar